Toyota Indonesia Ekspor 1 juta Mesin

Toyota ExportToyota Indonesia Ekspor 1 juta Mesin Komponen kendaraan Toyota produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) sudah diekspor ke 70 negara didunia. Sejak ekspor perdana 1988, tercatat sudah 100 kontainer yang dikirim.

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) merayakan ekspor komponen otomotif ke-100.000 kontainer di pabrik Sunter 1, Jakarta, Jumat (20/6).

Peresmian yang dihadiri Menteri Perindustrian MS Hidayat ini menurut Presiden Direktur TMMIN Masahiro Nonami sebagai bentuk keseriusan Toyota mengembangkan Indonesia sebagai basis produksi Toyota global. Sejak pertama diekspor tahun 1988 pabrikan sudah mengirim sebanyak 477 juta komponen kendaraan, satu juta unit mesin utuh, lebih dari 8 juta komponen mesin, 215 unit die dan 603 unit jig.

Kinerja ekspor Toyota Indonesia pertumbuhan signifikan sepanjang 2010 hingga 2013. Tak hanya komponen, ekspor kendaraan utuh atau Complete Build -up Unit (CBU) juga memiliki kontribusi besar.

Ekspor CBU perdana dimulai pada 1987. Saat itu, Kijang Super menjadi model yang dilepas ke sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik. Eskpor CBU Toyota juga mengalami peningkatan. Secara keseluruhan, pabrikan telah mengirim lebih dari 590 ribu unit sejak 1987 hingga 2014.

Seperti juga komponen, peningkatan signfikan terjadi di empat tahun terakhir. Eskpor CBU Toyota meningkat dari 55.796 unit pada 2010 menjadi 118.436 unit pada tahun lalu, atau tumbuh sebesar 112,27 persen. Dalam lima bulan pertama tahun ini (Januari – Mei), sebanyak 53.064 unit mobil bermerek Toyota telah diekspor ke sejumlah negara. Pada tahun ini, ekspor mobil Toyota tumbuh sebesar 30 persen dibandingkan dengan total ekspor CBU tahun lalu.
“Diharapkan target bisa tercapai dengan meningkatkan ekspor ke pasar Timur Tengah, terutama untuk jenis sedan Vios,” kata Presiden Direktur TMMIN Masahiro Nonami.

Dalam kesempatan yang sama, Warih Andang Tjahjono, Wakil Presiden PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, mengatakan bahwa tantangan untuk meningkatkan ekspor itu tidak mudah. Selain standar kualitas yang tinggi, upaya peningkatan ekspor juga sangat tergantung pada kondisi perekonomian negara tujuan.

“Karena itu kami terus berupaya memperluas pasar agar mempunyai alternatif pasar yang lebih beragam, sehingga resiko kondisi perekonomian suatu negara tujuan yang kurang menguntungkan tidak begitu berdampak pada pencapaian target ekspor kami,” papar Warih.

Leave a Reply